Rabu, 17 Agustus 2016
Jumat, 27 Mei 2016
Puisi
Ibuk, ...
Ibuk, aku rindu...
mendengar namamu, tergetar hatiku...
Ibuk, aku rindu...
menyebut namamu, keluh lidahku...
Ibuk, aku rindu...
menulis tentangmu, jemariku terasa rapuh...
Ibuk, aku rindu...
mengingat wajahmu, tak mampu ku membendung air mataku...
Ibuk, aku rindu...
memimpikanmu, rasanya aku tak mampu...
Ibuk, aku rindu...
Adakah hari yang lebih indah melebihi hari ketika kita saling bersemuka dan aku dalam pelukanmu...
Ibuk, aku rindu...
Nantikanku di batas waktu, ketika ruh ini tak lagi bersatu dengan jasad ini,
ketika jasad ini tak mampu lagi bersimpuh di hadapan-Nya...
sampai kau dan aku dapat bertemu dalam satu dimensi.
Ibuk, aku rindu...
Lidah Wetan, 12 Mei 2016
Ibuk, aku rindu...
mendengar namamu, tergetar hatiku...
Ibuk, aku rindu...
menyebut namamu, keluh lidahku...
Ibuk, aku rindu...
menulis tentangmu, jemariku terasa rapuh...
Ibuk, aku rindu...
mengingat wajahmu, tak mampu ku membendung air mataku...
Ibuk, aku rindu...
memimpikanmu, rasanya aku tak mampu...
Ibuk, aku rindu...
Adakah hari yang lebih indah melebihi hari ketika kita saling bersemuka dan aku dalam pelukanmu...
Ibuk, aku rindu...
Nantikanku di batas waktu, ketika ruh ini tak lagi bersatu dengan jasad ini,
ketika jasad ini tak mampu lagi bersimpuh di hadapan-Nya...
sampai kau dan aku dapat bertemu dalam satu dimensi.
Ibuk, aku rindu...
Lidah Wetan, 12 Mei 2016
Langganan:
Postingan (Atom)